logo unsada-putih (1)

UNSADA dan Hiroshima University Selenggarakan Seminar Internasional “Asia Connected by Land and Sea”

UNSADA dan Hiroshima University Selenggarakan Seminar Internasional “Asia Connected by Land and Sea”

 UNSADA dan Hiroshima University Selenggarakan Seminar Internasional “Asia Connected by Land and Sea”

Universitas Darma Persada (UNSADA) bersama Hiroshima University menyelenggarakan Hybrid International Workshop bertajuk “Asia Connected by Land and Sea (India, Nepal, Indonesia, Jepang)” pada Selasa, 3 Maret 2026, di ruang TS60 Fakultas Bahasa dan Budaya. Kegiatan ini menghadirkan dua profesor dari Hiroshima University, yakni Associate Prof. Dr. Naoko Ito dan Prof. Dr. Tsunehiko Sugiki, sebagai pembicara utama.

Seminar internasional tersebut membahas perkembangan Buddhisme Tantrik serta keterhubungan sejarah dan budaya antara India, Nepal, Indonesia, dan Jepang melalui jalur darat dan laut.

Dalam sesi pertama, Associate Prof. Dr. Naoko Ito memaparkan perkembangan Buddhisme Tantrik atau Vajrayana yang muncul di India sekitar abad ke-7 hingga ke-9 Masehi. Tradisi ini dikenal melalui praktik esoterik seperti mantra, mudra, mandala, serta penggunaan vajra dan ghanta dalam ritual keagamaan.

“Melalui jalur perdagangan dan pelayaran internasional, ajaran Vajrayana menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada abad ke-8–9, Indonesia—khususnya Jawa pada masa Dinasti Syailendra—menjadi salah satu pusat penting perkembangan Buddhisme Tantrik. Hal tersebut tercermin dalam struktur dan simbolisme Candi Borobudur yang berbentuk mandala kosmis tiga dimensi. Relief dan arca di Borobudur merepresentasikan kosmologi serta ajaran esoterik Vajrayana.

“Borobudur bukan hanya monumen keagamaan; melainkan juga bukti historis peran strategis Indonesia dalam jaringan transmisi ajaran Buddha di Asia,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti keterkaitan budaya antara India, Indonesia, dan Jepang. Kesinambungan tradisi tersebut, menurutnya, dapat dilihat dalam perkembangan ajaran esoterik di Jepang, termasuk dalam tradisi Shingon yang masih bertahan hingga saat ini.

Sementara itu, Prof. Dr. Tsunehiko Sugiki membahas figur Heruka dalam tradisi Buddhisme Tantrik. Ia menerangkan bahwa Vajrayana sebagai perkembangan lanjut dari Mahayana memiliki berbagai tradisi meditasi dan figur yidam, termasuk sosok berwujud wrathful yang bersifat simbolik.

“Figur-figur tersebut tidak dipahami sebagai dewa dalam pengertian teistik; melainkan sebagai representasi aspek pencerahan dan transformasi batin,” terangnya.

Heruka digambarkan dalam berbagai bentuk ikonografi, sering kali memiliki banyak wajah dan lengan yang melambangkan kemampuan mentransformasikan klesha atau kekotoran batin. Dalam tradisi Nepal dan Tibet, dikenal bentuk kompleks Heruka dengan 17 wajah dan puluhan lengan. Warna biru tua yang dominan melambangkan kebijaksanaan serta transformasi spiritual.

Prof. Sugiki juga menambahkan bahwa dalam konteks Asia Tenggara ditemukan bukti arkeologis yang menunjukkan adanya pengaruh Vajrayana pada abad ke-8–10, termasuk di Sumatra dan Jawa. Namun, bentuknya bersifat adaptif dan tidak selalu identik dengan perkembangan ikonografi di kawasan Himalaya.

“Proses penyebaran ajaran berlangsung secara dinamis; setiap wilayah mengembangkan ekspresi budaya yang menyesuaikan dengan konteks lokal,” ungkapnya.

Melalui seminar internasional ini, UNSADA dan Hiroshima University memperkuat kerja sama akademik sekaligus membuka ruang dialog ilmiah mengenai keterhubungan peradaban Asia. Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa serta memperdalam pemahaman mengenai jejaring sejarah dan budaya yang menghubungkan India, Nepal, Indonesia, dan Jepang melalui jalur darat dan laut.

Recent Posts

Follow Us

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

QUICK LINKS

Weekly Newsletter

© All rights reserved Darma Persada University

Butuh Informasi ? Chat dengan kami
Kirim Pesan
Terima kasih telah menghubungi kami, silahkan ajukan informasi apa yang mau anda tanyakan