Seminar Pendidikan Bahasa Jepang Program Sakura Network 2025/2026

Universitas Darma Persada menyelenggarakan Seminar Pendidikan Bahasa Jepang Program Sakura Network 2025/2026 pada 5–7 Februari 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Pengajaran Bahasa Jepang untuk Generasi Berikutnya: Peluang dan Tantangan Pemanfaatan ICT dan AI” serta menghadirkan Mr. Jaeho Lee, Ph.D. sebagai narasumber. Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa Jepang, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi berbasis data.
Dalam sesi awal, narasumber membahas peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai alat pendukung pembelajaran yang efektif apabila digunakan sesuai tujuan pendidikan. TIK dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan, seperti latihan di kelas, presentasi, kolaborasi, manajemen tugas, serta pemberian umpan balik. Pemanfaatan teknologi memungkinkan penyediaan beragam sumber belajar berupa audio, video, dan gambar; memberikan kesempatan latihan berulang sesuai kemampuan peserta didik; serta membantu pendidik memantau perkembangan pembelajaran secara sistematis. Namun, penggunaan TIK juga memerlukan perhatian terhadap kejelasan tujuan pembelajaran, kesenjangan akses teknologi, serta aspek hak cipta dan keamanan data. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kompetensi penting bagi pendidik bahasa Jepang agar mampu menggunakan teknologi secara efektif, aman, dan etis.
Pembahasan selanjutnya menyoroti penggunaan Learning Management System (LMS) dalam manajemen pembelajaran. LMS berfungsi sebagai platform terpadu untuk mendistribusikan materi, mengumpulkan tugas, memfasilitasi diskusi, serta melakukan evaluasi. Penggunaan LMS membantu menciptakan manajemen kelas yang lebih terstruktur; meningkatkan transparansi penilaian; serta mendukung pembelajaran mandiri. Narasumber juga menekankan pentingnya alur pembelajaran yang jelas, yaitu persiapan sebelum kelas, pelaksanaan saat kelas, dan pemberian umpan balik setelah kelas. Instruksi tugas yang spesifik, kriteria penilaian yang disampaikan sejak awal, serta contoh yang jelas dapat membantu peserta didik memahami tujuan pembelajaran dengan lebih baik.
Pada sesi berikutnya, dibahas prinsip desain bahan ajar digital yang efektif dan mudah diakses. Bahan ajar sebaiknya menampilkan satu pesan utama dalam setiap halaman, menggunakan teks ringkas, serta menjaga konsistensi tata letak. Dukungan tambahan, seperti anotasi, bantuan kosakata, dan pertanyaan konfirmasi pemahaman, dapat membantu peserta didik memahami materi dengan lebih mendalam. Selain itu, aksesibilitas menjadi aspek penting; ukuran huruf harus jelas; kontras warna tepat; serta format file dapat diakses melalui berbagai perangkat, termasuk telepon pintar. Narasumber juga mengingatkan pentingnya memperhatikan hak cipta; materi dari internet tidak selalu bebas digunakan; sumber harus dicantumkan; serta distribusi materi dibatasi pada kebutuhan pembelajaran.
Pada sesi akhir, peserta mempelajari evaluasi dan umpan balik berbasis teknologi serta pemanfaatan data pembelajaran. Kuis daring dapat digunakan untuk mengukur pemahaman; rubrik membantu menjaga konsistensi penilaian; dan umpan balik yang spesifik mendorong peningkatan kualitas belajar. Data pembelajaran, seperti log aktivitas dan hasil kuis, dapat membantu pendidik mengidentifikasi kesulitan peserta didik serta menentukan dukungan yang tepat. Namun, pengelolaan data harus dilakukan secara hati-hati dengan menjaga privasi dan keamanan informasi peserta didik.
Melalui seminar ini, Universitas Darma Persada berharap pemanfaatan TIK, LMS, dan AI dalam pembelajaran bahasa Jepang dapat diterapkan secara optimal. Kegiatan ini diharapkan mendorong inovasi pembelajaran, memperkuat kompetensi pendidik, serta mempersiapkan generasi berikutnya dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.


