
Tidak semua perjalanan pendidikan dimulai dari pilihan yang terencana. Bagi Ibu Ivana Panca Saputri, dosen Program Studi Akuntansi Universitas Darma Persada (UNSADA), awal perjalanannya penuh dengan keraguan. Sejak SMA, Ibu Ivana memiliki impian untuk menempuh studi di bidang Psikologi. Namun, biaya kuliah yang cukup tinggi membuatnya mengurungkan niat agar tidak menjadi beban bagi orang tua. Hingga akhirnya, ia menyerahkan keputusan kepada keluarga, dan pilihan itu membawanya ke UNSADA, tepatnya di Program Studi Akuntansi — bidang yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Awal kuliah bukanlah masa yang mudah. Ibu Ivana mengaku tidak memiliki dasar sama sekali di bidang akuntansi. “Membuat jurnal, memahami debit–kredit, bahkan mengenal akun-akun dasar pun rasanya sangat asing bagi saya,” kenangnya. Namun, berkat dukungan teman-teman dan dosen yang selalu membimbing, perlahan ia mulai memahami pelajaran demi pelajaran. Dari yang semula hanya menjalani perkuliahan tanpa niat besar, Ibu Ivana justru menemukan semangat baru. Ia mulai menyadari bahwa UNSADA memberikan banyak kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkembang, terlepas dari jurusan yang dipilih.
Titik balik besar dalam hidupnya hadir ketika ia berhasil lolos mengikuti Program Jenesys pada semester lima. Pengalaman pertama kali naik pesawat sekaligus pergi ke Jepang menjadi momen yang tak terlupakan. Program pertukaran pelajar ini bukan hanya memperluas wawasannya, tetapi juga menumbuhkan janji dalam dirinya: suatu hari ia akan kembali ke Jepang, bukan sekadar untuk jalan-jalan, melainkan untuk melanjutkan pendidikan. Sejak saat itu, Ibu Ivana semakin aktif mencari peluang lain yang disediakan kampus. Pada semester enam, ia kembali menorehkan prestasi dengan lolos Beasiswa Panasonic, sebuah pencapaian yang semakin meneguhkan keyakinannya bahwa kerja keras selalu sejalan dengan kesempatan.
Selepas lulus, perjalanan Ibu Ivana tidak serta-merta mulus. Ia sempat menjadi asisten dosen di Program Studi Manajemen, kemudian bekerja di perusahaan swasta selama empat tahun. Di titik itu, ia hampir menyerah dengan impian untuk kembali melanjutkan studi ke Jepang. Namun, tekad untuk menjadi dosen membuatnya kembali melanjutkan pendidikan di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat kuliah masih berjalan, kabar baik datang dari almamaternya. UNSADA kembali membuka kesempatan bagi Ibu Ivana untuk melanjutkan studi ke Jepang. Meski sempat menghadapi berbagai rintangan, termasuk pandemi COVID-19 yang sempat menghalangi keberangkatan, Ibu Ivana percaya bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana Tuhan.
Hari ini, Ibu Ivana Panca Saputri kembali ke UNSADA, bukan lagi sebagai mahasiswa yang penuh keraguan, melainkan sebagai dosen Akuntansi yang siap mengabdi. “Saya percaya, kesempatan sekecil apa pun bisa menjadi pintu menuju mimpi, asal kita berani mengambilnya,” ungkapnya. Kampus yang dahulu hanya ia jalani sebagai “pilihan terakhir” kini menjadi rumah baginya untuk berkarya, mendidik, dan menginspirasi. Perjalanannya membuktikan bahwa dari keraguan bisa lahir keyakinan, dari mahasiswa bisa lahir seorang pendidik, dan bahwa UNSADA selalu menjadi bagian penting dalam transformasi hidup mahasiswanya.